Sri Mulyani dan Menkeu Baru

Komen = 1

SEDIKIT demi sedikit latar belakang Sri Mulyani Indrawati melepas jabatan Menteri Keuangan mulai terkuak. Dalam pidato pada berbagai  acara perpisahan yang digelar untuknya, Sri Mulyani melempar sebagian-sebagian latar belakang dirinya membuat putusan yang mengejutkan tersebut.

Sejauh yang bisa kita tangkap, Sri Mulyani tidak ingin mengadaikan integritasnya. Ia mencoba bertahan pada prinsip yang ia yakini dan ketika prinsip itu harus dikompromikan, Sri Mulyani memilih  mengundurkan diri.

Sri Mulyani tidak menutupi besarnya manuver politik yang terjadi di sekitar dirinya. Kompromi politik yang kini sedang dihasilkan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atas dasar itu ia tidak ragu untuk melepas jabatannya sebagai Menkeu karena ia merasa perannya menjadi tidak lagi dibutuhkan oleh sistem politik yang ada.

Sri Mulyani tidak merasa sebagai pihak yang kalah dalam pertarungan politik yang terjadi. Ia justru merasa sebagai pemenang, karena ia merasa tidak pernah mengorbankan nilai yang diyakini dan intelektualitas yang diajarkan almamaternya yakni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Meski disampaikan dalam bagian yang terpisah-pisah, Sri Mulyani sepertinya hendak menyampaikan bahwa janganlah jabatan dijadikan segala-galanya. Ada nilai yang tidak bisa dikorbankan, apalagi jabatan menteri itu harus diabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Nilai itu bisa goyah karena godaan yang datang begitu besar. Jika diibaratkan ikan, godaan itu pada awalnya bisa dalam bentuk ikan mas atau ikan gurame, tetapi kemudian bisa datang dalam bentuk ikan hiu yang besar.

Orang seringkali tidak lagi berdaya ketika godaan besar itu datang. Namun pengalaman menunjukkan pada akhirnya godaan itu tidak pernah bisa memuaskan hidup kita.

Pesan yang disampaikan Sri Mulyani sangat tepat untuk didengar menteri keuangan yang akan menggantikannya. Betapa di satu sisi jabatan itu memang memberikan kehormatan yang sangat besar, tetapi secara bersama membawa tanggung jawab yang sangat berat.

Noblesse oblige. Itulah kalimat bijak yang bisa kita dengar. Setiap kehormatan itu secara bersamaan membawa tanggung jawab. Bagi mereka yang diberi kepercayaan untuk memangku jabatan publik, maka di balik jabatan itu melekat tanggung jawab yang besar.

Tanggung jawab itu juga termasuk kepada aparat yang berada di bawahnya. Istilah Sri Mulyani, seorang pemimpin jangan mudah untuk mengorbankan anak buahnya.

Seorang pemimpin janganlah bersikap seperti katak yang selalu menginjak dengan dua kakinya dan menekan dengan kedua tangan untuk bisa melompat lebih tinggi. Pemimpin harus naik ke atas bersama-sama orang yang di bawahnya.

Agus Martowardojo yang ditunjuk Presiden sebagai menteri keuangan yang baru tentunya paham akan apa yang disampaikan Sri Mulyani. Selama ini kekuatannya sebagai Direktur Utama Bank Mandiri maupun sebelumnya Bank Permata adalah kemampuannya untuk membangun kerja tim.

Memang pekerjaannya kali ini jauh lebih berat karena yang dikelolanya bukan lagi organisasi kecil. Agus kini harus memimpin organisasi dengan sekitar 40.000 karyawan dan kinerjanya bukan hanya dibutuhkan oleh mereka yang bekerja di Kementerian Keuangan, tetapi 230 juta rakyat Indonesia.

Penanganan masalah fiskal bukanlah persoalan yang mudah. Apalagi seperti juga dirasakan Sri Mulyani, kuatnya kepentingan politik yang bermain di sana.

Akhirnya, setiap pekerjaan tidak bisa dilepaskan dengan persoalan hati nurani. Kejujuran terhadap nurani menjadi sangat penting, karena itulah yang bisa memberikan kepuasan batin bagi setiap orang dalam menjalani hidup ini.

Sc: Metrotvnews.com

Label : agus Martowardojo • menkeu • Sri Mulyani Indrawati •

Artikel Terkait Artikel Terbaru Artikel Ngetop Komentar Facebook Dibawah ini
  1. dua-duanya hebat deh :)

Komentar Anda?